Mengenal DFD dan ERD

TUGAS SISTEM INFORMASI
KELOMPOK 8
Mengenal DFD dan ERD

Mata Kuliah
SISTEM INFORMASI

Oleh

ANGGI ADITYA RAMANDHAN : 2011 4350 1404
DENA YULIANI : 2011 4350 1492

PROGRAM STUDI MANAJEMEN INFORMATIKA
PROGRAM TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS INDRAPRASTA
NOVEMBER 2012

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………2
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………3
I. PENDAHULUAN ……………………………………………………………….3
1. Latar Belakang ……………………………………………………………3
2. Permasalahan ……………………………………………………………….4
3. Tujuan Penulisan …………………………………………………………..4
II. Pembahasan ………………………………………………………………………5
A. DFD ………………………………………………………………………..5
1. Konsep Perancangan Terstruktur ………………………………………..5
2. Data Flow Diagram …………………………………………………….6
3. Komponen Data Flow ………………………………………………….12
4. Bentuk Data Flow Diagram …………………………………………..11
5. Syarat-syarat pembuatan DFD …………………………………………13
B. ERD ……………………………………………………………………….27
1. Element – element ERD …………………………………………………23
2. Kardinalitas Relasi ………………………………………………………..28
III. Penutup ………………………………………………………………………….43
Kesimpulan …………………………………………………………………….43
IV. Daftar Pustaka ………………………………………………………………….44

BAB I
PENDAHULUAN
I. LATAR BELAKANG
Data Flow Diagram (DFD) adalah suatu diagram yang menggunakan notasi-notasi untuk arus dari data sistem, yang penggunaannya sangat membantu untuk memahami sistem secara logika, terstruktur dan jelas. Atau DFD bisa juga dikatakan sebagai suatu model logika data atau proses yang dibuat untuk menggambarkan dari mana asal data dan kemana tujuan data yang keluar dari sistem, dimana data disimpan, proses apa yang menghasilkan data tersebut dan interaksi antara data yang tersimpan dan proses yang dikenakan pada data tersebut. DFD ini sering disebut juga dengan nama Bubble chart, Bubble diagram, model proses, diagram alur kerja, atau model fungsi. DFD ini adalah salah satu alat pembuatan model yang sering digunakan, khususnya bila fungsi-fungsi sistem merupakan bagian yang lebih penting dan kompleks dari pada data yang dimanipulasi oleh sistem. Dengan kata lain, DFD adalah DFD ini merupakan alat perancangan sistem yang berorientasi pada alur data dengan konsep dekomposisi dapat digunakan untuk penggambaran analisa maupun rancangan sistem yang mudah dikomunikasikan oleh professional sistem kepada pemakai maupun pembuat program.
DFD terdiri dari context diagram dan diagram rinci (DFD Levelled). Context diagram berfungsi memetakan model lingkungan (menggambarkan hubungan antara entitas luar, masukan dan keluaran sistem), yang direpresentasikan dengan lingkaran tunggal yang mewakili keseluruhan sistem. DFD levelled menggambarkan sistem sebagai jaringan kerja antara fungsi yang berhubungan satu sama lain dengan aliran dan penyimpanan data, model ini hanya memodelkan sistem dari sudut pandang fungsi.

Dan untuk Basis data (database) dapat di bayangkan sebuah lemari arsip. Jika kita memiliki lemari arsip dan bertugas mengelolanya, maka akan melakukan hal-hal seperti memberi sampul, memberi nomor, lalu menempatkan arsip-arsip tersebut dengan urutan tertentu dalam lemari tersebut. Kalau berbicara basis data, maka seluruh data disimpan dalam basis data pada masing-masing tabel atau file sesuai dengan fungsinya, sehingga dengan mudah dapat melakukan penelusuran data yang diinginkan. Sedangkan masalah yang dihadapi pada lemari arsip adalah kelambatan dalam menelusuri data yang ada pada lemari arsip tersebut, misalkan ingin mencari arsip untuk pegawai tertentu akan dihasilkan dengan lambat, dikarenakan petugas harus mencari lembaran-lembaran yang ada pada dokumen tersebut. Jika berbicara basis data, maka seluruh data disimpan dalam basis data pada masing-masing tabel atau file sesuai dengan fungsinya, sehingga akan dengan mudah dapat melakukan penelusuran data yang diinginkan, sehingga akan cepat mendapatkan informasi yang diperlukan.
II. Permasalahan
Data Flow Diagram atau Diagram Alur Data didefinisikan sebagai modelling tool yang memungkinkan sistem analis menggambarkan system sebagai jaringan (network) kerja dari proses dan fungsi yang dihubungkan satu sama lain oleh penghubung yang disebut Data Flow atau Alur Data, DFD merupakan komponen yang tak terpisahkan dalam alat pembuatan model yang memberikan penekanan hanya pada fungsi sistem dan ERD merupakan langkah-langkah untuk menetapkan element-element perusahaan untuk model jaringan perusahaan tersebut. Rumusan masalah merupakan suatu permasalahan yag memerlukan tanggapan dan pemecahan tentang apa yang menyebabkan terjadinya masalah serta bagaimana cara pemecahan masalah yang dihadapi. Dalam makalah ini kami mencoba mencakup permasalahan yang terjadi di perusahaan seperti :
1. Bagaimana merancang suatu sistem informasi di suatu perusahaan tertentu yang dapat membantu semua anggota dalam proses kerja sistem tersebut?
2. Basis data apa saja yang dipakai di dalam merancang sistem informasi tersebut?
3. Dan bagaimana pengaplikasian pembuatan sistem informasi tersebut?
Dengan perumusan masalah tersebut diatas, diharapkan melalui sistem baru maka permasalahan permasalahan yang terjadi dapat diatasi dengan cermat dan tepat.

III. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini diharapkan dapat :
1. Menjelaskan apa itu tentang DFD dan ERD lebih lanjut
2. Menjelaskan tentang jenis-jenis DFD dan ERD dalam perpustakaan
3. Menjelaskan tentang komponen-komponen DFD
4. Menjelaskan tentang atribut-atribut ERD
5. Memaparkan pembuatan model data berulang

BAB II
PEMBAHASAN
A. DATA FLOW DIAGRAM
1. KONSEP PERANCANGAN TERSTRUKTUR
Pendekatan perancangan terstruktur dimulai dari awal 1970. Pendekatan terstruktur dilengkapi dengan alat-alat (tools) dan teknikteknik (techniques) yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan diperoleh sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas.
Melalui pendekatan terstruktur, permasalahan yang komplek di organisasi dapat dipecahkan dan hasil dari sistem akam mudah untuk dipelihara, fleksibel, lebih memuaskan pemakainya, mempunyai dokumentasi yang baik, tepat waktu, sesuai dengan anggaran biaya pengembangan, dapat meningkatkan produktivitas dan kualitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan).

2. DATA FLOW DIAGRAM (DFD)
Data Flow Diagram (DFD) adalah alat pembuatan model yangmemungkinkan profesional sistem untuk menggambarkan system sebagai suatu jaringan proses fungsional yang dihubungkan satu sama lain dengan alur data, baik secara manual maupun komputerisasi. DFD ini sering disebut juga dengan nama Bubble chart, Bubble diagram, model proses, diagram alur kerja, atau model fungsi.
DFD ini adalah salah satu alat pembuatan model yang sering digunakan, khususnya bila fungsi-fungsi sistem merupakan bagian yang lebih penting dan kompleks dari pada data yang dimanipulasi oleh sistem. Dengan kata lain, DFD adalah alat pembuatan model yang memberikan penekanan hanya pada fungsi sistem.
DFD ini merupakan alat perancangan sistem yang berorientasi pada alur data dengan konsep dekomposisi dapat digunakan untuk penggambaran analisa maupun rancangan sistem yang mudah dikomunikasikan oleh profesional sistem kepada pemakai maupun pembuat program.

3. KOMPONEN DATA FLOW DIAGRAM
Menurut Yourdan dan DeMarco

Menurut Gene dan Serson

A. Komponen Terminator / Entitas Luar
Terminator mewakili entitas eksternal yang berkomunikasi dengan sistem yang sedang dikembangkan. Biasanya terminator dikenal dengan nama entitas luar (external entity).
Terdapat dua jenis terminator :
1. Terminator Sumber (source) : merupakan terminator yang menjadi sumber.
2. Terminator Tujuan (sink) : merupakan terminator yang menjadi tujuan data / informasi sistem.

Terminator dapat berupa orang, sekelompok orang, organisasi, departemen di dalam organisasi, atau perusahaan yang sama tetapi di luar kendali sistem yang sedang dibuat modelnya.
Terminator dapat juga berupa departemen, divisi atau sistem di luar sistem yang berkomunikasi dengan sistem yang sedang dikembangkan.
Komponen terminator ini perlu diberi nama sesuai dengan dunia luar yang berkomunikasi dengan sistem yang sedang dibuat modelnya, dan biasanya menggunakan kata benda, misalnya Bagian Penjualan, Dosen, Mahasiswa.

Ada tiga hal penting yang harus diingat tentang terminator :
• Terminator merupakan bagian/lingkungan luar sistem. Alur data yang menghubungkan terminator dengan berbagai proses sistem, menunjukkan hubungan sistem dengan dunia luar.
• Profesional Sistem Tidak berhak mengubah isi atau cara kerja organisasi atau prosedur yang berkaitan dengan terminator¸ Hubungan yang ada antar terminator yang satu dengan yang lain tidak digambarkan pada DFD.

B. Komponen Proses
Komponen proses menggambarkan bagian dari sistem yang mentransformasikan input menjadi output.
Proses diberi nama untuk menjelaskan proses/kegiatan apa yang sedang/akan dilaksanakan. Pemberian nama proses dilakukan dengan menggunakan kata kerja transitif (kata kerja yang membutuhkan obyek), seperti Menghitung Gaji, Mencetak KRS, Menghitung Jumlah
SKS.
Ada empat kemungkinan yang dapat terjadi dalam proses sehubungan dengan input dan output :

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang proses :
• Proses harus memiliki input dan output.
• Proses dapat dihubungkan dengan komponen terminator, data store atau proses melalui alur data.
• Sistem/bagian/divisi/departemen yang sedang dianalisis oleh profesional sistem digambarkan dengan komponen proses.

Berikut ini merupakan suatu contoh proses yang salah :

Umumnya kesalahan proses di DFD adalah :
1. Proses mempunyai input tetapi tidak menghasilkan output. Kesalahan ini disebut dengan black hole (lubang hitam), karena data masuk ke dalam proses dan lenyap tidak berbekas seperti dimasukkan ke dalam lubang hitam (lihat proses 1).
2. Proses menghasilkan output tetapi tidak pernah menerima input. Kesalahan ini disebut dengan miracle (ajaib), karena ajaib dihasilkan output tanpa pernah menerima input (lihat proses 2).
C. Komponen Data Store
Komponen ini digunakan untuk membuat model sekumpulan paket data dan diberi nama dengan kata benda jamak, misalnya Mahasiswa.

Data store ini biasanya berkaitan dengan penyimpanan-penyimpanan, seperti file atau database yang berkaitan dengan penyimpanan secara komputerisasi, misalnya file disket, file harddisk, file pita magnetik. Data store juga berkaitan dengan penyimpanan secara manual seperti buku alamat, file folder, dan agenda.

Suatu data store dihubungkan dengan alur data hanya pada komponen proses, tidak dengan komponen DFD lainnya. Alur data yang menghubungkan data store dengan suatu proses mempunyai pengertian sebagai berikut :
• Alur data dari data store yang berarti sebagai pembacaan atau pengaksesan satu paket tunggal data, lebih dari satu paket data, sebagian dari satu paket tunggal data, atau sebagian dari lebih dari satu paket data untuk suatu proses (lihat gambar 2 (a)).
• Alur data ke data store yang berarti sebagai pengupdatean data, seperti menambah satu paket data baru atau lebih, menghapus satu paket atau lebih, atau mengubah/memodifikasi satu paket data atau lebih (lihat gambar 2 (b)).
Pada pengertian pertama jelaslah bahwa data store tidak berubah, jika suatu paket data/informasi berpindah dari data store ke suatu proses. Sebaliknya pada pengertian kedua data store berubah sebagai hasil alur yang memasuki data store. Dengan kata lain, proses alur data bertanggung jawab terhadap perubahan yang terjadi pada data store.

D. Komponen Data Flow / Alur Data
Suatu data flow / alur data digambarkan dengan anak panah, yang menunjukkan arah menuju ke dan keluar dari suatu proses. Alur data ini digunakan untuk menerangkan perpindahan data atau paket data/informasi dari satu bagian sistem ke bagian lainnya.
Selain menunjukkan arah, alur data pada model yang dibuat oleh profesional sistem dapat merepresentasikan bit, karakter, pesan,formulir, bilangan real, dan macam-macam informasi yang berkaitan dengan komputer. Alur data juga dapat merepresentasikan data/informasi yang tidak berkaitan dengan komputer.
Alur data perlu diberi nama sesuai dengan data/informasi yang dimaksud, biasanya pemberian nama pada alur data dilakukan dengan menggunakan kata benda, contohnya Laporan Penjualan.
Ada empat konsep yang perlu diperhatikan dalam penggambaran alur data, yaitu :
• Konsep Paket Data (Packets of Data)
Apabila dua data atau lebih mengalir dari suatu sumber yang sama menuju ke tujuan yang sama dan mempunyai hubungan, dan harus dianggap sebagai satu alur data tunggal, karena data itu mengalir bersama-sama sebagai satu paket.

• Konsep Alur Data Menyebar (Diverging Data Flow)
Alur data menyebar menunjukkan sejumlah tembusan paket data yang yang berasal dari sumber yang sama menuju ke tujuan yangberbeda, atau paket data yang kompleks dibagi menjadi beberapa elemen data yang dikirim ke tujuan yang berbeda, atau alur data ini membawa paket data yang memiliki nilai yang berbeda yang akan dikirim ke tujuan yang berbeda.

• Konsep Alur Data Mengumpul (Converging Data Flow)
Beberapa alur data yang berbeda sumber bergabung bersama-sama menuju ke tujuan yang sama.

• Konsep Sumber atau Tujuan Alur Data
Semua alur data harus minimal mengandung satu proses. Maksud kalimat ini adalah:
o Suatu alur data dihasilkan dari suatu proses dan menuju ke suatu data store dan/atau terminator (lihat gambar 6 (a)).
o Suatu alur data dihasilkan dari suatu data store dan/atau terminator dan menuju ke suatu proses (lihat gambar 6 (b)).
o Suatu alur data dihasilkan dari suatu proses dan menuju ke suatu proses (lihat gambar 6 (c)).

4. BENTUK DATA FLOW DIAGRAM
Terdapat dua bentuk DFD, yaitu Diagram Alur Data Fisik, dan Diagram Alur data Logika. Diagram alur data fisik lebih menekankan pada bagaimana proses dari sistem diterapkan, sedangkan diagram alur data logika lebih menekankan proses-proses apa yang terdapat di sistem.
A. Diagram Alur Data Fisik (DADF)
DADF lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang ada (sistem yang lama). Penekanan dari DADF adalah bagaimana proses-proses dari sistem diterapkan (dengan cara apa, oleh siapa dan dimana), termasuk proses-proses manual.
Untuk memperoleh gambaran bagaimana sistem yang ada diterapkan, DADF harus memuat :
1. Proses-proses manual juga digambarkan.
2. Nama dari alur data harus memuat keterangan yang cukup terinci untuk menunjukkan bagaimana pemakai sistem memahami kerja sistem.
3. Simpanan data dapat menunjukkan simpanan non komputer.
4. Nama dari simpanan data harus menunjukkan tipe penerapannya apakah secara manual atau komputerisasi. Secara manual misalnya dapat menunjukkan buku catatat, meja pekerja. Sedang cara komputerisasi misalnya menunjukkan file urut, file database.
5. Proses harus menunjukkan nama dari pemroses, yaitu orang, departemen, sistem komputer, atau nama program komputer yangmengakses proses tersebut.

B. Diagram Alur Data Logika (DADL)
DADL lebih tepat digunakan untuk menggambarkan sistem yang akan diusulkan (sistem yang baru). Untuk sistem komputerisasi, penggambaran DADL hanya menunjukkan kebutuhan proses dari system yang diusulkan secara logika, biasanya proses-proses yang digambarkan hanya merupakan proses-proses secara komputer saja.

5. SYARAT-SYARAT PEMBUATAN DATA FLOW DIAGRAM
Syarat pembuatan DFD ini akan menolong profesional sistem untuk menghindari pembentukkan DFD yang salah atau DFD yang tidak lengkap atau tidak konsisten secara logika. Beberapa syarat pembutanDFD dapat menolong profesional sistem untuk membentuk DFD yang benar, menyenangkan untuk dilihat dan mudah dibaca oleh pemakai.
Syarat-syarat pembuatan DFD ini adalah :
1. Pemberian nama untuk tiap komponen DFD
2. Pemberian nomor pada komponen proses
3. Penggambaran DFD sesering mungkin agar enak dilihat
4. Penghindaran penggambaran DFD yang rumit
5. Pemastian DFD yang dibentuk itu konsiten secara logika
5.1. Pemberian Nama untuk Tiap komponen DFD
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, komponen terminator mewakili lingkungan luar dari sistem, tetapi mempunyai pengaruh terhadap sistem yang sedang dikembangkan ini. Maka agar pemakai mengetahui dengan lingkungan mana saja sistem mereka berhubungan,komponen terminator ini harus diberi nama sesuai dengan lingkungan luar yang mempengaruhi sistem ini. Biasanya komponen terminator diberi nama dengan kata benda.
Selanjutnya adalah komponen proses. Komponen proses ini mewakili fungsi sistem yang akan dilaksanakan atau menunjukkan bagaimana fungsi sistem dilaksanakan oleh seseorang, sekelompok orang atau mesin. Maka sangatlah jelas bahwa komponen ini perlu diberi nama yang tepat, agar siapa yang membaca DFD khususnya pemakai akan merasa yakin bahwa DFD yang dibentuk ini adalah model yang akurat.
Pemberian nama pada komponen proses lebih baik menunjukkan aturan-aturan yang akan dilaksanakan oleh seseorang dibandingkan dengan memberikan nama atau identitas orang yang akan melaksanakannya. Ada dua alasan mengapa bukan nama atau identitas orang (yang melaksanakan fungsi sistem) yang digunakan sebagai nama proses, yaitu :
 À Orang tersebut mungkin diganti oleh orang lain saat mendatang, sehingga bila tiap kali ada pergantian orang yang melaksanakan fungsi tersebut, maka sistem yang dibentuk harus diubah lagi.
 Á Orang tersebut mungkin tidak melaksanakan satu fungsi sistem saja, melainkan beberapa fungsi sistem yang berbeda. Daripada menggambarkan beberapa proses dengan nama yang sama tetapi artinya berbeda, lebih baik tunjukkan dengan tugas/fungsi system yang sebenarnya akan dilaksanakan.
Karena nama untuk komponen proses lebih baik menunjukkan tugas/fungsi sistem yang akan dilaksanakan, maka lebih baik pemberian nama ini menggunakan kata kerja transitif.
Pemberian nama untuk komponen data store menggunakan kata benda, karena data store menunjukkan data apa yang disimpan untuk kebutuhan sistem dalam melaksanakan tugasnya. Jika sistem sewaktu waktu membutuhkan data tersebut untuk melaksanakan tugasnya, makadata tersebut tetap ada, karena sistem menyi mpannya.
Begitu pula untuk komponen alur data, namanya lebih baik diberikan dengan menggunakan kata benda. Karena alur data ini menunjukkan data dan infiormasi yang dibutuhkan dan yang dikeluarkan oleh system dalam pelaksanaan tugasnya.
5.2. Pemberian Nomor pada Komponen Proses
Biasanya profesional sistem memberikan nomor dengan bilangan terurut pada komponen proses sebagai referensi. Tidak jadi masalah bagaimana nomor-nomor proses ini diberikan. Nomor proses dapat diberikan dari kiri ke kanan, atau dari atas ke bawah, atau dapat pula dilakukan dengan pola-pola tertentu selama pemberian nomor ini tetap konsisten pada nomor yang dipergunakan.

Nomor-nomor proses yang diberikan terhadap komponen proses ini tidak dimaksudkan bahwa proses tersebut dilaksanakan secara berurutan. Pemberian nomor ini dimaksudkan agar pembacaan suatu proses dalam suatu diskusi akan lebih mudah dengan hanya menyebutkan prosesnya saja jika dibandingkan dengan menyebutkan nama prosesnya, khususnya jika nama prosesnya panjang dan sulit.
Maksud pemberian nomor pada proses yang lebih penting lagi adalah untuk menunjukkan referensi terhadap skema penomoran secara hirarki pada levelisasi DFD. Dengan kata lain, nomor proses ini merupakan dasar pemberian nomor pada levelilasi DFD (lihat gambar 11).
5.3. Penggambaran DFD sesering mungkin
Penggambaran DFD dapat dilakukan berkali-kali sampai secara teknik DFD itu benar, dapat diterima oleh pemakai, dan sudah cukup rapih sehingga profesional sistem tidak merasa malu untuk menunjukkan DFD itu kepada atasannya dan pemakai.
Dengan kata lain, penggambaran DFD ini dilakukan sampai terbentuk DFD yang enak dilihat, dan mudah dibaca oleh pemakai dan professional sistem lainnya. Keindahan penggambaran DFD tergantung pada standar-standar yang diminta oleh organisasi tempat profesional system itu bekerja dan perangkat lunak yang dipakai oleh profesional system dalam membuat DFD.
Penggambaran yang enak untuk dilihat dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut ini :
 Ukuran dan bentuk proses.
Beberapa pemakai kadang-kadang merasa bingung bila ukuran proses satu berbeda dengan proses yang lain. Mereka akan mengira bahwa proses dengan ukuran yang lebih besar akan diduga lebih penting dari proses yang lebih kecil. Hal ini sebenarnya hanya karena nama proses itu lebih panjang dibandingkan dengan proses yang lain. Jadi, sebaiknya proses yang digambarkan memiliki ukuran dan bentuk yang sama.
6. Alur data melingkar dan alur data lurus.
Alur data dapat digambarkan dengan melingkar atau hanya garis lurus. Mana yang lebih enak dipandang tergantung siapa yang akan melihat DFD tersebut.

7. DFD dengan gambar tangan dan gambar menggunakan mesin.
DFD dapat digambarkan secara manual atau dengan menggunakan bantuan mesin, tergantung pilihan pemakai atau profesional sistem.
1. Penghindaran Penggambaran DFD yang rumit
Tujuan DFD adalah untuk membuat model fungsi yang harus dilaksanakan oleh suatu sistem dan interaksi antar fungsi. Tujuan lainnya adalah agar model yang dibuat itu mudah dibaca dan dimengerti tidak hanya oleh profesional sistem yang membuat DFD, tetapi juga oleh pemakai yang berpengalaman dengan subyek yang terjadi. Hal ini berarti DFD harus mudah dimengerti, dibaca, dan menyenangkan untuk dilihat.
Pada banyak masalah, DFD yang dibuat tidak memiliki terlalu banyak proses (maksimal enam proses) dengan data store, alur data, dan terminator yang berkaitan dengan proses tersebut dalam satu diagram.
Bila terlalu banyak proses, terminator, data store, dan alur data digambarkan dalam satu DFD, maka ada kemungkinan terjadi banyak persilangan alur data dalam DFD tersebut. Persilangan alur data ini menyebabkan pemakai akan sulit membaca dan mengerti DFD yang terbentu. Jadi semakin sedikit adanya persilangan data pada DFD, maka makin baik DFD yang dibentuk oleh profesional sistem.
Persilangan alur data ini dapat dihindari dengan menggambarkan DFD secara bertingkat-tingkat (levelisasi DFD), atau dengan menggunakan pemakaian duplikat terhadap komponen DFD.
Komponen DFD yang dapat menggunakan duplikat hanya komponen store dan terminator. Pemberian duplikat ini juga tidak dapat diberikan sesuka profesional sistem yang membuat DFD, tetapi makin sedikit pemakaian duplikat, makin baik DFD yang terbentuk.

Pemberian duplikat terhadap data store dilakukan dengan memberikan simbol garis lurus (Δ) atau asterik (*), sedangkan untuk terminator menggunakan simbol garis miring (/) atau asterik (*). Banyaknya pemberian simbol duplikat pada duplikat yang digunakan tergantung banyaknya duplikat yang digunakan.

2. Penggambaran DFD yang Konsisten
Penggambaran DFD harus konsisten terhadap kelompok DFD lainnya. Profesional sistem menggambarkan DFD berdasarkan tingkatan DFD dengan tujuan agar DFD yang dibuatnya itu mudah dibaca dan dimengerti oleh pemakai sistem. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan atau syarat membuat DFD.
8. PENGGAMBARAN DFD
Tidak ada aturan baku untuk menggambarkan DFD. Tapi dari berbagai referensi yang ada, secara garis besar langkah untuk membuat DFD adalah :
1. Identifikasi terlebih dahulu semua entitas luar yang terlibat di sistem.
2. Identifikasi semua input dan output yang terlibat dengan entitas luar.
3. Buat Diagram Konteks (diagram context)
Diagram ini adalah diagram level tertinggi dari DFD yang menggambarkan hubungan sistem dengan lingkungan luarnya.
Caranya :
• Tentukan nama sistemnya.
• Tentukan batasan sistemnya.
• Tentukan terminator apa saja yang ada dalam sistem.
• Tentukan apa yang diterima/diberikan terminator dari/ke sistem.
• Gambarkan diagram konteks.
4. Buat Diagram Level Zero
Diagram ini adalah dekomposisi dari diagram konteks. Caranya :
• Tentukan proses utama yang ada pada sistem.
• Tentukan apa yang diberikan/diterima masing-masing proses ke/dari sistem sambil memperhatikan konsep keseimbangan (alur data yang keluar/masuk dari suatu level harus sama dengan alur data yang masuk/keluar pada level berikutnya).
• Apabila diperlukan, munculkan data store (master) sebagai sumber maupun tujuan alur data.
• Gambarkan diagram level zero.
o Hindari perpotongan arus data
o Beri nomor pada proses utama (nomor tidak menunjukkan urutan proses).
5. Buat Diagram Level Satu
Diagram ini merupakan dekomposisi dari diagram level zero.
Caranya :
• Tentukan proses yang lebih kecil (sub-proses) dari proses utama yang ada di level zero.
• Tentukan apa yang diberikan/diterima masing-masing sub-proses ke/dari sistem dan perhatikan konsep keseimbangan.
• Apabila diperlukan, munculkan data store (transaksi) sebagai sumber maupun tujuan alur data.
• Gambarkan DFD level Satu
o Hindari perpotongan arus data.
o Beri nomor pada masing-masing sub-proses yang menunjukkan dekomposisi dari proses sebelumnya.
Contoh : 1.1, 1.2, 2.1

6. DFD Level Dua, Tiga, …
Diagram ini merupakan dekomposisi dari level sebelumnya. Proses dekomposisi dilakukan sampai dengan proses siap dituangkan ke dalam program. Aturan yang digunakan sama dengan level satu.

Pada gambar 11 terlihat bahwa Proses 0 diuraikan lagi ke dalam empat proses, penguraian ini digambarkan pada diagram Figure 0, sedangkan Proses 2 diuraikan kembali menjadi tiga proses yang digambarkan pada diagram Figure 2. Penguraian ini juga diikuti oleh alur data yang berkaitan dengan tiap proses yang diuraikan. Alur data yang berkaitan dengan tiap proses yang diuraikan dikenal dengan Alur data global. Jadi pada balancing DFD yang perlu diperhatikan adalah jumlah alur data global pada suatu level harus sama pada level berikutnya.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggambaran levelisasi DFD, yaitu :
• Dalam diagram konteks, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti hubungan sistem dengan dunia luar yang mempengaruhinya, penggambaran sistem dalam satu proses, dan penggambaran data store (optional) yang dikenal dengan data store eksternal atau data store master. Data store eksternal ini maksudnya adalah data store itu dihasilkan oleh sistem yang sedang dianalisis, tetapi digunakan oleh sistem lain, atau data store itu dihasilkan oleh sistem lain tetapi digunakan oleh sistem yang sedang dianalisis.

 Balancing (kesimbangan) dalam penggambaran levilisasi DFD perlu diperhatikan. Balancing DFD ini maksudnya keseimbangan antara alur data yang masuk/keluar dari suatu level harus sama dengan alur data yang masuk/keluar pada level berikutnya (lihat gambar 11).

B. ENTITY RELATIONSHIP DIAGRAM (ERD)

Model Entity Relationship Adalah suatu penyajian data dengan menggunakan Entity dan Relationship.Entity Relationship Diagram (ERD) untuk mendokumentasikan data perusahaan dengan mengidentifikasi jenis entitas (entity) dan hubungannya. ERD merupakan suatu model jaringan yang menggunakan susunan data yang disimpan pada system secara abstrak. ERD juga menggambarkan hubungan antara satu entitas yang memiliki sejumlah atribut dengan entitas yang lain dalam suatu sistem yang terintegrasi. ERD ini juga merupakan model konseptual yang dapat mendiskripsikan hubungan antara file yang digunkan untuk memodelkan struktur data serta hubungan antar data.
a) Elemen-elemen ERD
ERD menggunakan simbol-simbol khusus untuk menggambarkan elemen-elemen ERD. Berikut adala simbol-simbol yang digunakan dalam ERD.
Notasi Keterangan
Entitas
Entitas, adalah suatu objek yang dapat diidentifikasi dalam lingkungan pemakai

Relasi, menunjukkan adanya hubungan diantara sejunlah entitas yang berbeda.

Atribut, berfungsi mendeskripsikan karakter entitas (atribut yang berfungsi sebagai key diberi garis bawah)

Garis, sebagai penghubung antara relasi dengan entitas, relasi dan entitas dengan atribut.
Gambar 2.1 Notasi ERD

1) Entitas (Entity)
Entitas (Entity) menunjukkan obyek-obyek dasar yang terkait didalam sistem. Obyek dasar dapat berupa orang, benda atau hal lain yang keterangannya perlu disimpan dalam basis data. Untuk menggambarkan entitas dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan sebagai berikut :
 Entitas dinyatakan dengan simbol persegi panjang.
 Nama entitas berupa kata benda tunggal.
 Nama entitas sedapat mungkin menggunakan nama yang mudah dipahami dan menyatakan maknanya dengan jelas.
2) Atribut (Attribute)
Atribut sering juga disebut sebagai properti (property), merupakan keterangan-keterangan yang terkait pada sebuah entitas yang perlu disimpan sebagai basis data. Atribut berfungsi sebagai penjelas sebuah entitas untuk menggambarkan atribut yang dilakukan dengan mengikuti aturan sebagai nerikut :
 Atribut dinyatakan dengan simbol elipps.
 Nama atribut dituliskan dalam simbol elipps.
 Nama atribut berupa kata benda tunggal.
 Nama atribut sedapat mungkin menggunakan nama yang mudah dipahami dan menyatakan maknanya dengan jelas.
 Atribut dihubungkan dengan entitas yang bersesuaian dengan menggunakan garis.
Macam-macam Jenis Atribut :
a. Simple Attribute
Simple Attribute adalah atibut yang memliki kunci (key) yang unik dan tidak dimiliki oleh atribut lain, misalnya entitas pegawai memiliki atribut nama_peg.
NIK Nama_peg Alamat_pegawai Tpt_lhr
99011 Budi Santoso Jl. Merdeka No.10 Palembang 30117 12/12/1989
99012 Dodi Erfan Jl. Gajah Mada No.02 Jakarta 45123 10/10/1988
… … … …
Gambar 2.2 Simple Attribute

b. Composite Attribute
Composite Attribute adalah atribut yang dapat dipecah menjadi atribut-atribut lain atau atribut yang memiliki dua nilai harga, misalnya entitas pegawai memliki aribut alamat_pegawai, didekomposisikan menjadi nama_jalan, nama_kota, kode_pos.

Gambar 2.3 Composite Attribute

c. Single Value Attribute
Single Value Attribute adalah atribut yang memiliki satu nilai harga, misalnya entitas mahasiswa memiliki atribut: NIM, nama_mhs, tpt_lhr, dan tgl_lhr.

Gambar 2.4 Single Value Attribute

d. Multi Value Attribute
Multi Value Attribute adalah atribut yang memiliki banyak nilai harga, misalnya entitas mahasiswa memiliki atribut hobi.

Gambar 2.5 Multi Value Attribute

e. Mandatory Attribute
Mandatory Attribute adalah atribut harus bernilai artinya aribut pada sebuah tabel yang diterapkan harus berisi data, misalnya pada tabel mahasiswa, NIM dan Nama_mhs merupakan Mandatory attribute karena setiap mahasiswa datanya disimpan kedalam tabel dan harus diketahui NIM dan Nama _mhs tersebut, artinya tidak boleh kosong (NOT NULL).

Gambar 2.6 Mandatory Attribute

f. Non Mandatory Attribute
Non Mandatory Attribute adalah atribut tidak bernilai artinya atribut tersebut nilainya boleh kosong, misalnya pada tabel mahasiswa, alamat_mhs, tgl_lhr, dan hobi merupakan Non mandatory attribute karena boleh dikosongkan (NULL).

Gambar 2.7 Non Mandatory Attribute

g. Kunci Kandidat (Candidate Key)
Kunci kandidat adalah satu atribut atau satu set atribut yang mengidentifikasikan secara unik suatu kejadian spesifik dari entity. Satu set atribut menyatakan secara tidak langsung dimana anda tidak dapat membuang beberapa atribut dalam set tanpa merusak kepemilikan yang unik. Jika kunci kandidat berisi lebih dari satu atribut, maka biasanya disebut sebagai composite key (kunci campuran atau gabungan).
Contoh :
File mahasiswa berisi :
• Nomor Pegawai
• No KTP
• Nama Pegawai
• Tempat Lahir
• Tanggal Lahir
• Alamat
• Kota
Kunci kandidat dalam file mahasiswa di atas dapat dipilih sbb :
• Nomor Pegawai
• No KTP
• Nama (tidak dapat dipakai karena sering seseorang punya nama yang sama dengan orang lain)
• Nama + Tanggal Lahir (mungkin bisa dipakai sebagai kunci karena kemungkinan orang dengan nama yang sama dan tanggal lahir yang sama cukup kecil)
• Nama + Tempat Lahir + Tanggal Lahir (dapat dipakai sebagai kunci)
• Alamat dan Kota (bukan kunci)

h. Kunci Primer (Primery Key)
Primary key adalah satu atribut atau satu set minimal atribut yang tidak hanya mengidentifikasi secara unik suatu kekadian spesifik, tetapi juga dapat mewakili setiap kejadian dari suatu entity. Setiap kunci kandidat dapat menjadi kunci primer tetapi sebaliknya sebaiknya dipilih satu saja yang dapat mewakili secara menyeluruh terhadap entity yang ada.
Contoh :
• No Pegawai (karena sifatnya yang unik maka tidak mungkin pegawai mempunyai Nomor Pegawai yang sama).
• No KTP (Bisa dipakai misalnya untuk pegawai yang baru belum mendapatkan nomor pegawai maka bisa digunakan nomor KTP untuk sementara sebagai kunci primer.
• Kode_Kuliah (bisa dipakai untuk data mata kuliah karena kode mata (kuliah bersifat unik untuk tiap mata kuliah)
i. Kunci Alternatif (Alternate Key)
Kunci alternatif adalah kunci kandidat yang tidak dipakai sebagai kunci primer. Kunci alternatif ini sering digunakan untuk kunci pengurutan misalnya dalam laporan.
j. Kunci Tamu (Foreign Key)
Kunci tamu adalah satu atribut aatau satu set minimal atribut yang melengkapi satu hubungan yang menunjukkan ke induknya. kunci tamu ditempatkan pada entity anak dan sama dengan kunci primer induk yang direlasikan. Hubungan antara entity induk dengan anak adalah hubungan satu lawan banyak (one to many relationship)
Contoh :
File Transaksi Gaji Bulanan :
• No Pegawai
• No Bukti
• Tanggal
• Jumlah Gaji Kotor
• Jumlah Potongan
• Jumlah Gaji Bersih
• Jumlah Pajak
Kunci Tamu
• No Pegawai (karena Gaji berhubungan dengan file Pegawai)
Kunci Primer
• No Bukti (karena unik dan mewakili entity)
Kunci Kandidat
• No Pegawai + Nomor Bukti (Unik dan menunjukkan hubungan dengan file Pegawai)
Dalam hubungan dua buah file yang punya relationship banyak lawan banyak maka terdapat 2 kunci tamu pada file konektornya.
Contoh :
File Proyek berisi atribut
• No Proyek
• Tgl Mulai
• Tgl Selesai
• Anggaran
File Pegawai Berisi Atribut
• No Pegawai
• Nama
Hubungan antara file tersebut adalah banyak lawan banyak yaitu satu pegawai mengerjakan lebih dari 1 proyek dan 1 proyek dikerjakan oleh beberapa pegawai maka untuk menunjukkan hubungan tersebut dipakai file konektor yang berisi Kunci tamu dari kedua file.
File Proyek Pegawai berisi atribut :
• No Proyek
• No Pegawai
• Jam Kerja
Maka pada file proyek pegawai terdapat kunci tamu yaitu nomor proyek dan no pegawai. Kedua atribut tersebut juga merupakan kunci primer.

3) Relasi (Relation)
Relasi atau hubungan adalah kejadian atau transaksi yang terjadi diantara dua entitaas yang keterangannya perlu disimpan dalam basis data. Aturan penggambaran relasi antar entitas adalah :
 Relasi dinyatakan dengan simbol belah ketupat
 Nama relasi dituliskan didalam simbol belah ketupat
 Relasi menghubungkan dua entitas
 Nama relasi menggunakan kata kerja aktif (diawali awalan me) tunggal
 Nama relasi sedapat mungkin menggunakan nama yang mudah dipahami dan dapat menyatakan maknanya dengan jelas.

b) Kardinalitas Relasi
Dalam ERD, hubungan (relasi) dapat terdiri dari sejumlah entitas yang disebut derajad relasi. Derajad relasi maksimum disebut dengan kardinalitas sedangkan derajad relasi minimum disebut dengan modalitas. Jadi kardinalitas relasi menunjukkan jumlah maksimum entitas yang dapat berelasi dengan entitas pada himpunan entitas lain. Kardinalitas relasi yang terjadi diantara dua himpunan entitas (misalnya A dan B) dapat berupa :
1. Satu ke satu (one to one, 1-1)
Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berelasi dengan paling banyak satu entitas pada himpunan entitas B, demikian juga sebaliknya. Contoh:

Gambar 2.8 one to one
2. Satu ke banyak (one to many, 1-N)
Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat berelasi dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, tetapi tidak sebaliknya. Contoh :

Gambar 2.9 one to many
3. Banyak ke banyak (many to many, N-N)
Setiap entitas pada himpunan entitas A dapat beralasi dengan banyak entitas pada himpunan entitas B, demikian juga sebaliknya. Contoh :

Gambar 2.10 many to many
c) Langkah-langkah Mendapatkan ERD
Langkah-langkah teknis yang dapat dilakukan untuk mendapatkan ERD awal adalah :
 Mengidentifikasi dan menetapkan seluruh himpunan entitas yang akan terlibat
 Menentukan atribut-atribut key (kunci) dari masing-masing himpunan entitas.
 Mengidentifikasi dan menetapkan seluruh himpunan relasi diantara himpunan entitas yang ada beserta foreign-key (kunci asing/kunci tamu).
 Menentukan derajad relasi/kardinalitas relasi untuk setiap himpunan relasi.
 Melengkapi himpunan entitas dan himpunan relasi dengan atribut deskriptif (atribut yang bukan kunci).

d) IMPLEMENTASI BASIS DATA

Tahap implementasi basis data merupakan upaya untuk membangun basis data fisik yang ditempatkan dalam memori sekunder (disk) dengan bantuan DBMS (Database Management System) yang kita pilih.Tahap implementasi basis data di awali dengan melakukan transformasi dari model data yang telah selesai dibuat ke skema atau struktur basis data sesuai dengan DBMS yang dipilih.
Secara umum, sebuah diagram akan direpresentasikan menjadi sebuah basis data secara fisik. Sedangkan komponen-komponen diagram E-R yang berupa himpunan entitas dan himpunan relasi akan ditransformasikan menjadi tabel-tabel (file-file data) yang merupaka komponen utama pembentuk basis data. Selanjutnya atribut-atribut yang melekat pada masin-masing himpunan entitas dan himpunan relasi akan dinyatakan sebagai field-field dari tabel-tabel yang sesuai.
(Contoh Kasus) Sistem Informasi Perpustakaan
Studi Kasus : ”Sistem Informasi Perpustakaan”
Bahasa C++
Compiler : Borland C++ Builder
RDBMS : Ms. Acceess 2003 (ADO Connection)
MySql (ODB – Open Database Connectivity)
Nama Database : Perpustakaan
Entitas : 1. Buku Relasi : 1. Menulis (Buku – Penulis)
2. Penulis : 2. Menerbitkan (Buku – Penerbit)
3. Penerbit : 3. Meminjam (Buku – Anggota)
4. Anggota

Entity Relationship Diagram (ERD) Sistem Informasi Perpustakaan

Gambar 3.1 ERD Sistem Informasi Perpustakaan
Perancangan RDBMS Ms. Access 2003
Buatlah database dengan nama “Perpustakaan.mdb”, kemudian buatlah table – table dengan cara mengklik “Create table in Design view”, setelah itu membuat relatiohsip yang terjadi serta membuat query dengan format sebagai berikut :
2.1. Perancangan Tabel
a. Tabel Angoota
– Desain

Gambar 3.2 Desain Tabel Anggota

– Datashet View

Gambar 3.3 Dashet View Tabel Anggota
b. Tabel Penulis
– Desain

Gambar 3.4 Desain Tabel Penulis

– Datashet View

Gambar 3.5 Datashet View Tabel Penulis

c. Tabel Penerbit
– Desain

Gambar 3.6 Desain Tabel Penerbit

– Datashet View

Gambar 3.7 Datashet View Tabel Pnerbit

d. Tabel Buku
– Desain

Gambar 3.8 Desain Tabel Buku

– Datashet View

Gambar 3.9 Datashet view Tabel Buku

e. Tabel Peminjaman
– Desain

Gambar 3.10 Desain Tabel Peminjaman

– Datashet View

Gambar 3.11 Datashet View Tabel Peminjaman

Perancangan Relationship
a. Relationship Anggota – Peminjaman (1 –N)

Gambar 3.12 Relationship Anggota – Peminjaman

b. Relationship Buku – Peminjaman(1-N)

Gambar 3.13 Relationship Buku – Peminjaman

c. Relationship Buku – Penulis (1-N)

Gambar 3.14 Relationship Penulis – Buku
d. Relationship Buku – Penerbit (1-N)

Gambar 3.15 Relationship Buku – Penerbit

e. Relationship yang telah terjadi

Gambar 3.16 Relationship

Perancangan Query
a. Desain Query

Gambar 3.17 Desain Query

b. Implementasi Query

Gambar 3.18 Implementasi Query

PERANCANGAN ANTAR MUKA UNTUK SISTEM INFORMASI PERPUSTAKAAN
Rancangan Antar Muka Pengolahan Data Buku

Gambar 4.1 Form Pengolahan Data Buku
Apabila tombol Browse pada kolom penerbit di tekan, maka program akan membuka form baru yaitu form Pilih Penerbit.

Gambar 4.2 Form Pilih Penerbit
Dan apabila menekan tombol Insert pada kolom peulis, maka program akan mengeluarkan form yang terpisah untuk mengambil nama penulis.

Gambar 4.3 Form Ambil Penulis

Rancangan Antar Muka Pengolahan Data Penerbit

Gambar 4.4 Form Pengolahan Data Penerbit

Rancangan Antar Muka Pengolahan Data Penulis

Gambar 4.5 Form Pengolahan Data Penulis
Rancangan Antar Muka Pengolahan Data Anggota

Gambar 4.6 Form Pengolahan Data Anggota
Rancangan Antar Muka Pengolahan Data Peminajaman

Gambar 4.7 Form Pengolahan Data Peminjaman
Jika menekan tombol Browse pada kolom Kode Buku, maka program akan menampilkan form terpisah untuk memilih buku.

Gambar 4.8 Form Pilih Buku

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Penggambaran DFD harus konsisten terhadap kelompok DFD lainnya. Profesional sistem menggambarkan DFD berdasarkan tingkatan DFD dengan tujuan agar DFD yang dibuatnya itu mudah dibaca dan dimengerti oleh pemakai sistem. Hal ini sesuai dengan salah satu tujuan atau syarat membuat DFD.
2. Penggambaran levelisasi DFD beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu penggambaran sistem dalam satu proses, dan penggambaran data store (optional) Serta Balancing
3. Perancangan basisdata (database) merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan. Didalam merancang basis data kesulitan utama dalam merancang basis data adalah bagaimana memuaskan keperluan saat ini dan masa akan dating
4. Derajad relasi maksimum disebut dengan kardinalitas sedangkan derajad relasi minimum disebut dengan modalitas
5. Proses dekomposisi dilakukan sampai dengan proses siap dituangkan ke dalam program.


DAFTAR PUSTAKA

Fathansyah, 2007, “Basis Data”; Informatika : Bandung.

Fatta Al Hanif, 2007, “ Analisis dan Perancangan Sistem Inforasi Untuk Bersaing Perusahaan dan Organisasi Modern ”; Andi : Yogyakarta.

Kristanto Andi, 2008, “ Perancangan Sistem Informasi dan Aplikasinya “; Gava Media : Yogyakarta.

Sutabri Tata, 2004, “ Analisa Sistem Informasi “; Andi : Yogyakarta.

Yakub, 2008, “ Sistem Basis Data Tutorial Konseptual “; Graha Ilmu : Yogyakarta.

http://openpdf.com/ebook/perancangan-basis-data-pdf.html

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: